Radhitya Daniswara, Naufal (2026) Pengungkapan Diri dan Pengelolaan Privasi Perempuan Generasi-Z Korban Deepfake Porn. Bachelor Thesis, Universitas Multimedia Nusantara.
|
PDF
HALAMAN_AWAL.pdf Restricted to Registered users only Download (387kB) |
|
|
PDF
BAB_I.pdf Download (296kB) |
|
|
PDF
BAB_II.pdf Download (368kB) |
|
|
PDF
BAB_III.pdf Restricted to Registered users only Download (261kB) |
|
|
PDF
BAB_IV.pdf Restricted to Registered users only Download (625kB) |
|
|
PDF
BAB_V.pdf Restricted to Registered users only Download (212kB) |
|
|
PDF
DAFTAR_PUSTAKA.pdf Restricted to Registered users only Download (212kB) |
|
|
PDF
LAMPIRAN.pdf Restricted to Registered users only Download (1MB) |
|
|
Archive (ZIP)
00000067829_2521_LembarPengesahan.pdf Restricted to Registered users only Download (65kB) |
Abstract
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) telah mendorong munculnya berbagai bentuk penyalahgunaan digital, salah satunya deepfake porn. Fenomena ini tidak hanya merupakan bentuk manipulasi teknologi, tetapi juga pelanggaran privasi yang dapat menimbulkan dampak psikologis, sosial, dan komunikasi bagi korban. Perempuan Generasi Z sebagai kelompok pengguna media sosial yang aktif memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap risiko tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana perempuan Gen-Z korban deepfake porn mengelola privasi dan melakukan self disclosure setelah mengalami pelanggaran privasi di ruang digital. Penelitian menggunakan paradigma konstruktivis dengan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap enam perempuan Generasi Z yang pernah menjadi korban deepfake porn. Analisis data dilakukan menggunakan tahapan analisis studi kasus Stake (2010) serta dianalisis melalui Communication Privacy Management Theory dari Petronio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self disclosure korban merupakan proses yang berlangsung secara bertahap dan didahului oleh berbagai pertimbangan. Korban cenderung melakukan pembatasan informasi pada tahap awal sebagai upaya mengelola kembali privasi yang telah dilanggar. Keputusan untuk melakukan self disclosure dipengaruhi oleh rasa aman, tingkat kepercayaan, serta pertimbangan risiko dan manfaat yang mungkin muncul. Teman dekat dan pasangan menjadi pihak yang paling sering dipilih sebagai penerima pengungkapan karena dianggap mampu memberikan dukungan emosional, menjaga kerahasiaan, dan memahami kondisi korban. Sebaliknya, keluarga cenderung lebih dibatasi karena adanya kekhawatiran terhadap respons negatif dan victim blaming. Penelitian ini menunjukkan bahwa self disclosure berfungsi sebagai strategi korban dalam mengelola kembali batas privasi, memperoleh dukungan sosial, serta membangun kembali kontrol atas informasi pribadi setelah mengalami pelanggaran privasi di ruang digital.
| Item Type: | Thesis (Bachelor Thesis) |
|---|---|
| Creators: | Radhitya Daniswara, Naufal (00000067829) |
| Contributors: | Primadini, Intan |
| Keywords: | Communication Privacy Management, Deepfake Porn, Pengelolaan Privasi, Perempuan Generasi Z, Self Disclosure |
| Subjects: | 300 Social Sciences |
| Divisions: | Faculty of Communication > Strategic Communication |
| Date Deposited: | 22 Jul 2026 07:59 |
| URI: | https://kc.umn.ac.id/id/eprint/47845 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
